*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

PERISTIWA



PP PERKI Lantik Empat Pengurus Baru PERKI Daerah 2016-2018



TAHUN ini boleh dibilang tahun pelantikan bagi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Setidaknya ada empat pengurus baru PERKI Daerah yang dilantik sejak awal tahun ini.

Pengukuhan para pengurus baru tersebut dimulai di Batam. Di sela-sela seminar 1st Batam Acute Cardiovascular Care (BACC), yang diadakan di Haris Hotel Batam Center, Riau, telah dilangsungkan pelantikan PERKI Batam periode 2016-2018, pada 18 Februari 2017. Ketua Pengurus Pusat (PP) PERKI, DR Dr Ismoyo Sunu, SpJP(K), FIHA, melantik Dr. Stanley Panggabean, SpJP, FIHA menjadi ketua PERKI Batam.

Tak lama kemudian, sebulan berikutnya, PP PERKI melantik para pengurus PERKI Manado, Sulawesi Utara untuk masa bakti 2016-2018, tepatnya pada Sabtu, 11 Maret 2017 bertempat di Swiss-Belhotel Maleosan Manado. Saat itu, para anggota memilih dr Janry A. Pangemanan, SpJP(K), FIHA sebagai Ketua PERKI Manado.

Para anggota PERKI Balikpapan tak ketinggalan. Mereka juga melantik pengurus baru untuk periode 2016-2018, berlangsung di Hotel Gran Senyiur, Balikpapan, pada Jumat, 19 Mei 2017. Acara itu berlangsung sesaat sebelum dilangsungkannya acara Koperki XVI. Saat itu, Ismoyo Sunu sebagai Ketua PP PERKI menobatkan Dr Mas Kusharyadi SpJP, FIHA sebagai ketua.

Terakhir kali, DR Ismoyo bertolak ke Surabaya, Jawa Timur. Bertempat di Hotel Four Points Sheraton Surabaya telah diadakan acara pelantikan pengurus baru PERKI Surabaya, pada tanggal 8 Juli 2017. Saat itu, dr Yudi Her Oktaviono, SpJP(K), FIHA dinobatkan sebagai ketua untuk masa bakti 2016-2018.

Selamat mengabdi dan berkarya!

[Tim InaHeartnews]


Pelantikan Pengurus PERKI Batam


Pelantikan Pengurus PERKI Manado


Pelantikan Pengurus PERKI Balikpapan


Pelantikan Pengurus PERKI Surabaya





World Hypertension & Heart Day 2017:
Jaga Jantung, Jaga Tekanan Darah






Kemeriahan World Heart Day oleh PERKI Surabaya.

KNOW Your numbers! Alias Ketahui Tekanan Darahmu! Begitulah tema Hari Hipertensi Dunia 2017 yang dirayakan bulan Mei setiap tahun. Dengan mengetahui dan mengawasi tekanan darah, kesehatan jantung diharapkan dapat terjaga. Indonesia sendiri menambahkannya dengan tema nasional sendiri yakni “Cegah Hipertensi dengan Pendekatan Keluarga”.

Departemen Kesehatan menyatakan tema nasional itu dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat yang dimulai dari keluarga untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi. Selain itu juga masyarakat diharapkan dapat melakukan pengukuran tekanan darah secara berkala dan bahwa hipertensi dapat dicegah dan diobati.

Maklum saja, data World Health Organization (WHO) tahun 2011 menunjukkan satu milyar orang di dunia menderita hipertensi. Yang menarik, sebanyak 2/3 diantaranya berada di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang. Bahkan jika kondisi saat ini berlarut-larut, WHO meramalkan prevalensi hipertensi akan terus meningkat tajam dan pada 2025 sebanyak 29% orang dewasa di seluruh dunia terkena hipertensi.

Padahal hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, yang mana 1,5 juta kematian terjadi di Asia Tenggara yang 1/3 populasinya menderita Hipertensi sehingga dapat menyebabkan peningkatan beban biaya kesehatan.

Masih menurut WHO, hipertensi yang tidak mendapat penanganan yang baik dapat menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal ginjal dan kebutaan. Stroke (51%) dan Penyakit Jantung Koroner (45%) merupakan penyebab kematian tertinggi. Menurut data sample registration system (SRS) Indonesia tahun 2014, hipertensi dengan komplikasi (5,3%) merupakan penyebab kematian nomor lima pada semua umur.

Tentu saja, Hari Hipertensi ini dirayakan dengan berbagai kegiatan kesehatan. Sejumlah lembaga profesi dan kesehatan pun bekerja sama dan sibuk merayakannya. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dan Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI) menyelenggarakan “Bulan Pengukuran Tekanan Darah” pada 1-31 Mei. Mereka juga melaksanakan sosialisasi dan diseminasi informasi tentang hipertensi melalui berbagai media cetak, elektronik dan media tradisional serta pemasangan spanduk, umbul-umbul berisi pesan tentang hipertensi.

PERKI cabang di beberapa daerah juga merayakannya. Misalnya saja, PERKI Surabaya memusatkan perayaan di Taman Bungkul Surabaya, Mei silam. Acara yang diselenggarakan bareng Yayasan Jantung Indonesia ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengukur tekanan darah secara rutin.

Acara dimulai dengan senam pagi di lapangan tengah Taman Bungkul yang diikuti oleh panitia serta para pengunjung taman, yang juga sedang menikmati car free day di Jalan Raya Darmo.

Perayaan kesehatan jantung ini masih berlanjut pada September dengan memperingati World Heart Day atau Hari Jantung Sedunia. Di berbagai daerah melaksanakan beragam perayaan mulai dari seminar kesehatan jantung untuk awam, senam jantung, senam zumba, parade jantung, kampanye kesehatan jantung oleh para artis dan seniman hingga tak lupa pelatihan Basic Life Support untuk awam.

[Tim InaHeartnews]


PERKI Palembang turut memeriahkan Hari Jantung Sedunia.




Selamat! Dr Yoga Yuniadi Menjadi Profesor Aritmia FKUI




2017 merupakan tahun bersejarah bagi Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP(K). Betapa tidak, pada 22 Agustus lalu, Yoga resmi menyandang gelar profesor aritmia. Syukuran pengukuhan Prof Dr dr Yoga Yuniadi SpJP(K), FIHA, FAsCC sebagai guru besar bidang ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (Aritmia) Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dilaksanakan di Auditorium lantai 4 Gedung Satu RS Jantung Harapan Kita, Jakarta.

“Kemajuan di bidang aritmia belum bisa dinikmati secara luas oleh pasien-pasien di Indonesia karena sampai saat ini masih terdapat kendala besar dalam pelayanan aritmia di Indonesia, antara lain masih minimnya dokter subspesialis aritmia,” kata Yoga dalam siaran pers.

Sebenarnya, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) telah lama mengembangkan unit aritmia sejak awal 1990 untuk melayani para penderita gangguan irama jantung ini. Namun menurut Yoga, minat terhadap bidang aritmia masih minim. Yaitu dengan hanya ada 28 orang subspesialis aritmia dari 1.000 dokter spesialis jantung pembuluh darah yang ada saat ini. Jadi dalam kurun waktu 15 tahun, subspesialis aritmia hanya bertambah 26 orang saja.

"Aritmia seringkali dianggap sulit dipelajari karena harus dipahami dalam konteks mekanisme yang bersifat virtual. Struktur anatomi yang melatarbelakangi aritmia tidak kasatmata tetapi harus dibayangkan. Hal ini menjadikan aritmia unik dan membutuhkan upaya yang lebih banyak untuk mempelajarinya,” tutur Yoga.

Keadaan tersebut menyebabkan hanya sedikit para spesialis jantung dan pembuluh darah muda yang tertarik untuk belajar aritmia. Ditambah lagi apresiasi yang diberikan juga dirasakan masih tidak sepadan dibandingkan tingkat kesulitan dan risiko yang dihadapi seorang aritmologis.

Di Indonesia, epidemiologi aritmia tidak berbeda jauh dengan negara lain. Fibrilasi atrium (FA) merupakan aritmia yang paling sering didapatkan di klinik. Tidak jarang stroke merupakan manifestasi klinis pertama dari FA. Dalam hal ini dokter ahli saraf menjadi titik masuk pertama menuju diagnosis FA. FA merupakan suatu penyakit terkait umur (aging disease). Prevalensi FA mencapai 1-2% dan akan terus meningkat dalam 50 tahun mendatang.

Yoga memaparkan data, sampai saat ini, implantasi device (alat pacu jantung, ICD dan CRT) di Indonesia masih sangat rendah (hanya 2 per sejuta penduduk), lebih rendah dari Singapura (185), Thailand (59), Malaysia (39). Bahkan lebih rendah dari Filipina (9) dan Myanmar (6). (Ref: Medtronic Marketing Research, 2012).

Oleh karena itu diperlukan lebih banyak dokter ahli aritmia, juga diperlukan terobosan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di tanah air. Oleh karena itu, Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) menginisiasi suatu program terobosan yang disebut dengan Integrated Implanter Crash Program (I2CP).

Yoga berharap integrated implanter crash program (I2CP) dapat terus digalakkan. Program ini terdiri dari (1) sepekan internet based learning yang diakhiri dengan ujian teori, (2) workshop dan wet lab, dan (3) proctorship 5 kasus di tempat masing-masing peserta.

“Dengan metoda ini telah dihasilkan 92 implanter baru dan 86 di antaranya aktif melakukan implantasi alat pacu jantung menetap. Saya optimis, tahun 2030 kita dapat memiliki 100 orang subspesialis aritmia yang aktif dan lebih banyak implanter untuk memberikan pelayanan yang lebih baik," katanya lagi.

[Tim InaHeartnews]



Kembali ke atas