*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

LAPORAN UTAMA
Teknologi Non Invasif:
sebagai Penjaga Gerbang Penyakit Jantung Koroner









Penerapan teknologi non invasif dinilai mampu meringankan hingga 40% biaya terapi penyakit jantung. Manajemen BPJS dan dokter jantung perlu duduk bersama untuk berbicara soal pembiayaan terapi non invasif.

DADA tiba-tiba sakit tak ketulungan, jantung berdegup kencang, keluar keringat dingin. Berbagai pertanyaan pun memenuhi kepala: apakah kena serangan jantung? Atau ada saraf tidak berfungsi? Atau perut yang tidak beres? Atau bagian tubuh lainnya?

Nah, dalam kondisi inilah suatu teknologi non invasif sangat berperan menentukan kondisi awal kesehatan pasien. Seperti namanya, kardiologi non invasif selama ini dikenal sebagai tindakan medis dengan tidak memasukkan suatu benda medis ke dalam tubuh pasien.


dr. Manoefris Kasim, SpJP(K), SpKN, FIHA, FAsCC di Lab nya.


Perkembangan kardiologi non invasif inilah yang menjadi salah satu perhatian dr Manoefris Kasim, SpJP(K), SpKN, FIHA, FAsCC, pakar jantung dari Kardiologi Non-Invasif Ekokardiografi dan Treadmill, Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Teknologi non invasif saat ini berkembang pesat dengan beragam jenis tujuan tindakan dan manfaatnya. Dari yang memakai pantulan suara (ultrasonik) hingga menggunakan sinar gelombang pendek atau radiasi. Ada juga yang memasukkan zat pembeda tertentu ke dalam tubuh, masih tergolong invasif.

“Teknologi non invasif lebih banyak bersifat diagnostik,” kata Manoefris. Misalnya dengan mengarahkan metoda ultrasonik tadi kepada organ tubuh tertentu seperti jantung atau ginjal, nanti akan diperoleh citra organ tersebut untuk didiagnosa. “Jadi tubuh relatif tidak dilukai oleh pembedahan,” katanya.

Berbagai terobosan teknologi masih terjadi dalam bidang non invasif ini. Salah satu perkembangan misalnya, pakar jantung telah mengembangkan apa yang disebut sebagai magnetocardiography (MCG), sebagai bentuk alternatif dari yang selama ini digunakan, electrocardiography (ECG).

MCG akan mendeteksi gelombang magnetik yang terpancar pada pasien, yang kemudian dapat memetakan kondisi jantung sehingga dapat terdiagnosa. Seperti teknologi non invasif lainnya, MCG dapat dilaksanakan dengan cara memindai jantung pasien.

“Teknologi dengan menggunakan magnet ini memang terbaru yang dikembangkan para ahli. Pada dasarnya itu dikembangkan dari magnetic resonance imaging,” kata Manoefris. Dengan begitu, dokter dapat segera mendiagnosa.

“Jadi pada dasarnya ini adalah teknologi yang mampu melaksanakan prosedur rule out, upaya untuk memisahkan suatu gejala, apakah itu normal atau tidak,” katanya. Oleh sebab itu, MCG lebih banyak digunakan di ruang UGD lebih dulu. Ia dapat digunakan sebagai pemeriksaan pendahuluan. “Ini lebih kepada rule in atau rule out agar lebih gampang untuk terapi lebih lanjut,” katanya.

Sebab itulah, kardiologi non invasif ini cukup penting dari rangkaian penanganan pasien jantung. Menurut Manoefris, syukurlah, penerapan non invasif cukup merata dilaksanakan di lembaga kesehatan Indonesia, dari Pusat maupun di daerah. “Kalau untuk terapi jantung, hampir semua sudah merata. Teknologinya hampir ada di tiap-tiap rumah sakit tipe B. Dari yang teknik ekokardiografi atau ultrasound. Departemen Kesehatan cukup menjamin pengadaannya,” kata Manoefris.

Melihat manfaatnya terhadap pasien, pria kelahiran Batusangkar, 9 September 1949 ini menyatakan peran kardiologi non invasif sangatlah penting dalam manajemen penanganan pasien jantung. “Perannya itu sangat jelas dan penting. Non invasif sangat menentukan penanganan dan nasib pasien itu lebih lanjut,” kata Manoefris.

Contohnya, lanjut Manoefris, tanpa melakukan tindakan pengobatan pun, dokter yang ahli sudah dapat melihat kondisi pasien. Misalnya jika sang pasien tidak mampu berjalan lurus atau pincang, berarti ada yang tidak beres dengan bagian jantungnya. “Jadi kardiologi non invansif ini sangat penting,” katanya lagi.

Betapa tidak, dengan penerapan terapi non invasif yang tepat, biaya perawatan dan pengobatan pasien diramalkan dapat ditekan hingga 40%. “Jadi sebenarnya tidak perlu lagi prosedur cath lab. Karena sebelumnya, dengan terapi non invasif dapat diketahui apakah pasien ini perlu masuk cath lab atau tidak,” katanya.


Proses rehabilitasi pasien jantung.


Kadang-kadang, lanjut Manoefris, kasihan pasiennya, setelah masuk cath lab hasilnya eh.. ternyata jantungnya normal, eh.. ternyata penyempitan jantung hanya sedikit, tidak perlu pembedahan. “Padahal biaya untuk cath lab itu lebih mahal ketimbang tindakan non invasif,” kata Manoefris lagi. Bahkan sebenarnya tahap diagnostik invasif tentu tidak perlu jika kondisi pasien sudah diketahui lebih dulu dengan tindakan non invasif. “Jadi di sinilah letak kardiologi non invasif sebagai gate keeper atau penjaga gerbang bagi prosedur diagnostik invasif,” kata Manoefris.

Hanya saja, kini ada masalah pembiayaan yang perlu mendapat perhatian. “Pesan sponsor kami, pengelola dan manajemen BPJS Kesehatan perlu lebih mendorong lagi prosedur penggantian tindakan non invasif. Baik itu memakai metoda nuklir, kardiologi nuklir, yang menggunakan pemindai radio- isotop, maupun cardiac CT/MSCT,” kata Manoefris.

“Jadi saya kira manajemen BPJS perlu duduk bersama dengan para ahli non invasif untuk membicarakan masalah ini. Ini supaya prosedur invasif baik bedah maupun non bedah dapat diterapkan dengan properly, efektif dan efisien. Ujung-ujungnya, biaya yang dikeluarkan pasien juga tepat sasaran dan tepat guna,” tutur Manoefris.*

[Tim InaHeartnews]