*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

PENDIDIKAN
Pendidikan Kardiologi Harus Merata!




Penyelenggaraan pendidikan kardiologi saat ini dinilai sudah cukup memadai. Kualitas dan kemampuannya tidak kalah dengan luar negeri. Namun penyebaran lembaga pendidikan belum merata untuk semua wilayah.

PENYELENGGARAAN pendidikan kardiologi Indonesia sebenarnya cukup memadai dan tidak kalah mutunya dengan pendidikan kardiologi di luar negeri. Namun tentu saja masih banyak yang harus diperjuangkan dan diperbaiki.

Setidaknya, begitulah pendapat Dr Otte J Rachman, SpJP(K). “Masalah penyelenggaraan pendidikan kardiologi memang cukup kompleks. Banyak pihak yang terlibat dan harus dilibatkan,” kata Otte dalam perbincangannya dengan InaHeartnews, akhir September.

Salah satu yang menjadi perhatian Otte dalam pendidikan kardiologi adalah tidak meratanya penyelenggaraan tersebut. Akibatnya, suatu wilayah atau daerah tertentu memiliki fasilitas dan mutu pendidikan yang lebih baik ketimbang daerah lain. “Ini akibatnya, hasil pendidikan tersebut, yakni para dokter spesialis, tidak dapat memenuhi kebutuhan pasien di wilayahnya sendiri,” kata Otte.

Masalah tidak merata ini, lanjut Otte, tidak hanya terjadi pada penyelenggaraannya, tetapi juga pada ketersediaan fasilitas pendidikan yang ada. Akibatnya, kadang-kadang suatu lembaga pendidikan kedokteran di suatu wilayah terpaksa mengirimkan anak didiknya ke Pusat, atau kota-kota besar yang memiliki fasilitas pendidikan tersebut.

“Jadi penyebaran fasilitas pendidikan ini juga harus diperhatikan selain tentu saja penyelenggaraannya,” kata Otte. Sehingga pemerintah dan lembaga pendidikan kedokteran juga harus memperhatikan kedua aspek tersebut. “Bukan hanya perkara pendidikannya saja, tetapi juga fasilitasnya. Itu pun harus diperhatikan penyebarannya, untuk menghasilkan dokter-dokter yang berkualitas,” katanya.

Menurut pandangan dan pengamatan Otte, kondisi penyelenggaraan yang tidak merata ini juga terjadi di sejumlah negara berkembang seperti di Indonesia. Di Jakarta dan kawasan kota-kota besar lainnya memang telah terselenggara dengan baik. Tetapi di wilayah tertentu, apalagi di luar Pulau Jawa, harus mendapat perhatian dan perbaikan.

Lantas kira-kira apa yang harus dilakukan? Menurut Otte, pemerintah, swasta dan para dokter harus duduk bareng menyelesaikan masalah ini. Penyelenggaraan pendidikan, sivitas akademika, termasuk berbagai fasilitas penunjang haruslah dipenuhi dan dengan penyebaran yang merata.

Setelah itu, lanjut Otte adalah bagaimana membuat kerja sama ini langgeng. Salah satunya adalah dengan memupuk rasa percaya antar berbagai pihak ini secara terus menerus. “Masalahnya antara lembaga dan kelompok ini memang tidak saling percaya. Masing-masing pihak selalu menuntut secara berlebihan kepada pihak lainnya. Jadi kalau ini terus terjadi agak susah juga membentuk suatu sistem yang baik. Jadi di sini kita harus saling tolong menolong dan harus saling percaya dengan niat baik masing-masing,” katanya.

Padahal, menurut Otte, potensi pengembangan penyelenggaraan pendidikan kardiologi besar sekali. “Artinya, pendidikan di sini tidak kalah jika dibandingkan dengan luar negeri. Sama saja, relatif tidak ada perbedaan yang berarti. Kita juga mampu menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas,” katanya.

Jika itu telah terpenuhi, maka lembaga pendidikan kedokteran dapat memenuhi standar pelayanan kesehatan yang telah ditetapkan.*

[Tim InaHeartnews]



dr. Otte J Rachman, SpJP(K) (kiri) beserta kolega.