*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

Webinar Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2018

HARI Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati tanggal 31 Mei tiap tahunnya, menyerukan kepada seluruh masyarakat dunia, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan kepedulian terhadap ancaman global maupun lokal akibat konsumsi tembakau (merokok). Studi-studi klinis telah membuktikan bahwa merokok merupakan penyebab utama kematian akibat penyakit kardiovaskular serta meningkatkan angka kejadian penyakit jatung koroner, dan lain-lain.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada tahun ini mengangkat tema tembakau dan dampaknya terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) dengan slogan: “Tobacco breaks heart” dan sub tema: “Choose health, no tobacco”.

Menurut data WHO tahun 2015, lebih dari sepertiga anak laki-laki usia 13-15 tahun di Indonesia saat ini mengonsumsi produk tembakau. Lebih dari 3,9 juta anak –antara usia 10 dan 14 tahun— menjadi perokok setiap tahun, dan setidaknya 239.000 anak dibawah umur 10 tahun sudah mulai merokok. Di samping itu, lebih dari 40 juta anak dibawah 5 tahun menjadi perokok pasif. Menurut WHO, risiko kanker paru-paru meningkat pada perokok pasif antara 20 dan 30 persen, dan risiko penyakit jantung sekitar 25-35%.

Kedaruratan ancaman konsumsi tembakau di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan tentu saja masyarakat sangat menunggu kebijakan nasional pengendalian tembakau yang bersifat holistik termasuk aplikasi dan sanksi yang dapat dikenakan di tengah-tengah masyarakat, seperti di sekolah, fasilitas umum, dll. Demikian beberapa kesimpulan yang mengemuka pada Press Conference sekaligus Webinar Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) yang didukung Yayasan Jantung Indonesia pada 5 Juni di Heart House PERKI, Jakarta.

Dr.dr. Ismoyo Sunu, dr. Ade Meidian Ambari dan ibu Laksmiati A. Hanafiah, saat presentasi di depan para awak media yang hadir.

Dr.dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K), FIHA, FasCC, Ketua Umum Pengurus Pusat PERKI dalam sambutannya mengatakan, “Berdasarkan data WHO sedikitnya 7 juta orang meninggal dunia karena konsumsi tembakau. Studi membuktikan, bahwa jika harga rokok dinaikkan maka akan berdampak positif bagi kesehatan masyarakat dan pendapatan negara, salah satunya yaitu studi yang dilakukan di Afrika Selatan dan Perancis, 1990-2005. PERKI mendukung terwujudnya cukai rokok ditingkatkan sampai 66% karena sudah dibuktikan pada studi tersebut bahwa peningkatan cukai rokok 3 kali telah mengurangi separuh dari jumlah perokok aktif.”

Ia menjelaskan, “Kegiatan rutin Webinar PERKI bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah penyebaran pendalaman dan update pengetahuan kardiovaskular bagi seluruh anggota PERKI agar dapat terciptanya kesamaan dan kesetaraan dalam memelihara kompetensi pada setiap dokter spesialis jantung dan pembuluh darah secara nasional.”

Ia melanjutkan, “Media juga berperan penting dalam menginspirasi masyarakat untuk mengurangi konsumsi tembakau, melindungi para perokok aktif dari dampak negative rokok serta meyakinkan kaum muda dan remaja untuk berhenti merokok dan tidak mencoba untuk merokok.”

“PERKI sendiri mempunyai program Keluarga Proaktif Kardiovaskular Sehat Indonesia (Koaktivasi). Proaktif mengidentifikasi faktor risiko penyakit kardiovakular dan pengendaliannya dalam keluarga merupakan kunci keberhasilan pencegahan penyakit kardiovaskular. Kami berharap program ini dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular sebagai dampak dari konsumsi tembakau”, tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, dr. Ade Meidian Ambari, SpJP, FIHA, mengatakan, “Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab penyakit kardiovaskular yang dapat meningkatkan kecacatan dan kematian. Merokok dapat merusak lapisan dinding arteri koroner bagian dalam (disfungsi endotel) sehingga terjadi penumpukan lapisan lemak (atheroma) yang mengakibatkan penyempitan arteri koroner. Karbon monoksida dalam asap tembakau mengurangi jumlah oksigen dalam darah karena berikatan dengan hemoglobin dan nikotin dalam rokok merangsang tubuh untuk memacu aktifitas system saraf simpatis sehingga jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Di samping itu, merokok dapat meningkatkan aktifasi system pembekuan darah mengakibatkan terbentuknya gumpalan darah (thrombus) di pembuluh darah koroner menyebabkan serangan jantung.”

Dalam presentasinya ia memaparkan, “Berdasarkan data WHO, kematian dini yang disebabkan oleh rokok di dunia mencapai hampir 5,4 juta kematian pertahun. Jika ini terus terjadi, diperkirakan 10 juta orang perokok meninggal setiap tahunnya pada 2025. Sebesar 35-40% kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular dan berhubungan dengan rokok. Sedangkan 25-30% menunjukkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada perokok pasif.”

“Berdasarkan data BPJS, Negara menggelontorkan dana Rp.6,5 triliun pada periode Januari-September 2017 untuk membiayai 7 juta kasus penyakit jantung di Indonesia. Jumlah kasus penyakit jantung pada 2017 bertambah bila dibandingkan dengan jumlah kasus pada 2016 yang hanya 6,5 juta kasus. Fakta ini menunjukkan bahwa penyakti jantung menempati peringkat tertinggi pembiayaan penyakit katastropik di Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, “Produk tembakau lainnya, seperti: bidis, cerutu dan shisha yang cukup popular di dunia memiliki dampak penyakit kardiovaskular akut yang sama dengan rokok, termasuk penyempitan pembuluh darah jantung (pembuluh darah koroner), meningkatnya denyut jantung dan curah jantung. Produk tersebut sering dianggap tidak berbahaya dibandingkan rokok, padahal pada faktanya produk tersebut memiliki risiko yang sama.”

Mengenai konsumsi tembakau di Indonesia, Laksmiati A. Hanafiah, Ketua III Yayasan Jantung Indonesia dan Ketua Harian Komnas Pengendalian Tembakau mengemukakan, “Kedaruratan ancaman bahaya tembakau sebenarnya sudah sering diinformasikan kepada masyarakat, namun kesadaran dan kepedulian terhadap hal ini sampai sekarang masih dirasakan kurang. Hal ini terbukti dengan makin tingginya konsumsi tembakau di kalangan perokok muda, perokok baru sebagai dampak maraknya iklan gaya hidup dari kalangan industri rokok yang menyesatkan seperti merokok itu keren, dll.”

“Yang menyedihkan ialah bahwa sebagian besar perokok (sekitar 70%) berasal dari keluarga miskin dan usia produktif, seharusnya uang yang digunakan untuk membeli rokok bisa dialokasikan untuk membeli makanan dan minuman yang berguna untuk keluarga. Faktanya perokok bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga orang di sekelilingnya yang menjadi perokok pasif dan third-hand smoker, yaitu mereka yang bersentuhan dengan benda-benda yang terkena paparan asap rokok,” lanjutnya.

Ia menambahkan, “Fenomena lain, yaitu masih murahnya harga rokok di Indonesia mendorong tingginya konsumsi rokok sehingga salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan konsumsi rokok adalah dengan menaikkan harga produk ini.”

“Pengendalian konsumsi tembakau harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Pendidikan tentang bahaya tembakau dapat dimulai dari keluarga, sekolah dan komunitas-komunitas sehingga kita dapat menghindari munculnya generasi penerus konsumen zat adiktif ini,” tuturnya.*

Dengan bijak dan cerdas para nara sumber menjawab pertanyaan pada sesi diskusi

Para awak media 'menyerbu' dengan berbagai pertanyaan kepada nara sumber setelah acara ditutup

Nara sumber bersama protokol/moderator, berfose setelah acara usai

(ARiS/IHN)