*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

Studi XANAP: Kabar Baik bagi Pasien Fibrilasi Atrium (FA) di Indonesia

FA (Fibrilasi Atrium) merupakan kelainan irama jantung yang berupa detak jantung tidak regular yang dapat menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dapat menyebabkan stroke. FA sering dijumpai di populasi dunia termasuk di Indonesia. Penderita FA memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibanding orang tanpa FA.

Jumlah penderita stroke di Indonesia mengalami peningkatan, data SURVEY KESEHATAN tahun 1990-an, jumlah penderita stroke adalah 2 per 1000 penduduk, pada RISKESDAS 2007 meningkat menjadi 8,3 per 1000 penduduk dan pada RISKESDAS 2013 menunjukan peningkatan jumlah penderita stroke menjadi 12,1 per 1000 penduduk. Peningkatan juga terjadi pada angka kematian akibat stroke. Berdasarkan data Survey Kementerian Kesehatan 2014, 21,1% kematian di Indonesia disebabkan oleh stroke dan merupakan penyakit penyebab kematian no.1 di Indonesia.

Dari FA, lalu ke stroke, dan berakhir dengan kematian itu adalah cerita yang menakutkan bagi pasien FA. Namun bagi anda pasien FA di Indonesia baru-baru ini ada berita baik yang mengemuka, the Journal of Arrhythmia (publikasi resmi Perkumpulan Heart Rhythm Asia Pasifik dan Jepang) mempublikasikan hasil studi XANAP (Rivaroxaban untuk Pencegahan Stroke bagi Pasien dengan Fibrilasi Atrium di Asia / Rivaroxaban for Prevention of Stroke in Patients with Atrial Fibrillation in Asia).

Studi XANAP melibatkan 2.273 pasien di 10 negara Asia --termasuk 126 pasien dari Indonesia-- merupakan studi pertama dan terbesar di Asia yang meneliti penggunaan anti koagulan oral antagonis non vitamin K (NOAC) Rivaroxaban pada populasi pasien yang besar dengan gangguan ritme jantung non-valvular fibrilasi atrium.

Dr. Mohammad Kurniawan, SpS(K) sebagai Dokter Peneliti Utama dalam studi XANAP di Indonesia, dalam konferensi Pers yang diadakan di Hotel Double Tree, Cikini, Jakarta (20/9) mengatakan: ”Pada XANAP, tingkat perdarahan mayor pasien yang diobati dengan Rivaroxaban rendah yaitu 1,5% per tahun. Secara khusus, tingkat perdarahan gastrointestinal (GI) dan perdarahan intrakranial (otak) yang fatal relatif rendah yaitu masing-masing 0,5% dan 0,7% per tahun. Tingkat stroke juga rendah pada 1,7% per tahun. Hal ini menegaskan kembali keefektifan Rivaroxaban dalam mencegah stroke terkait AF.”

“Lebih dari 96% pasien yang diobati dengan Rivaroxaban dalam penelitian ini tidak mengalami perdarahan mayor, stroke / emboli sistemik (SE), atau kematian karena penyebab apapun,” tandasnya.

“Penelitian ini melibatkan pasien lanjut usia dengan berbagai tingkat risiko stroke, berbagai penyakit penyerta medis yang signifikan termasuk gagal jantung, hipertensi, diabetes melitus, stroke / SE / serangan iskemik transien dan infark miokard”, tambahnya.

Dr. Daniel Tanubudi, SpJP(K) yang juga sebagai anggota Dokter Peneliti dalam studi itu, dalam waktu yang sama mengatakan: “Prevalensi FA meningkat di Asia, diperkirakan sekitar 72 juta orang menderita FA di tahun 2050. Data menunjukkan bahwa NOAC dapat menjadi standar terbaru untuk pencegahan stroke dan perdarahan pada pasien FA non-valvular (FA yang tidak disebabkan oleh kelainan pada katup jantung), dimana perdarahan mayor merupakan pertimbangan utama dokter saat merekomendasikan NOAC pada pasien FA. Data XANAP ini semakin memastikan bahwa NOAC Rivaroxaban dapat menurunkan tingkat perdarahan pada pasien FA di Asia, juga manfaat dan keamanan yang positif sehingga bermanfaat bagi pencegahan stroke pada pasien”.

“Di Indonesia akan terjadi peningkatan populasi usia lanjut yaitu dari 7,74% (tahun 2000) menjadi 28,68% di tahun 2050, maka angka kejadian FA juga akan meningkat secara signifkan. Hal ini terjadi karena prevalensi FA meningkat menurut usia dan FA lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita,” tambahnya.


Presiden Direktur PT Bayer Indonesia, Angel Michael Evangelista (tengah) diapit oleh jajaran pejabat di PT Bayer Indonesia
dan 2 pembicara (Dr. Daniel Tanubudi dan Dr. Mohammad Kurniawan).