*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

Run for Heart Beat 2018

DALAM rangka Asia Pacific Atrial Fibrilation Campaign (APAFC) 2018, InaHRS (Indonesian Heart Rhythm Society) yang merupakan Pokja daripada PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia/Indonesian Heart Association) bekerja sama dengan Yayasan Jantung Indonesia dan disupport langsung oleh APHRS (Asian Pacific Heart Rhythm Society) menyelenggarakan kegiatan untuk masyarakat yang diberinama Run for Heart Beat 2018 pada Minggu 23 September 2018.

Tema yang diusung pada acara ini adalah “MENARI Kenali Fibrilasi”. MENARI atau Meraba Nadi Sendiri adalah jargon yang dicetuskan oleh guru besar aritmia Prof. DR. Dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), FIHA, pada tahun 2017. Tempat yang dipilih untuk kegiatan ini adalah Wisma Mandiri 2, Jl. Kebon Sirih Raya No.83 - Jakarta Pusat yang letaknya persis di persimpangan Jl. Kebon Sirih dengan Jl. M.H. Thamrin.

"Run For Heart Beat 2018 adalah acara lari yang bertujuan untuk mengkampanyekan Atrial Fibrilasi kepada masyarakat terutama yang rutin melakukan aktivitas olahraga seperti olahragawan atau pecinta lari marathon, seperti di Jl. MH. Thamrin ini yang memang rutin dipakai olahraga untuk masyarakat sebagai hari Car Free Day pada hari Minggu”, ucap dr. Faris Basalamah yang menjabat Ketua Panitia Kegiatan ini.

Atrial Fibrilasi adalah kelainan irama pada jantung berupa denyut jantung yang tidak normal, sangat cepat, sangat lambat ataupun tidak beraturan, sehingga menyebabkan terjadinya bekuan darah di jantung yang bisa lepas ke dalam sirkulasi sistemik yang dapat menyebabkan penyakit stroke. Dengan "MENARI" kita bisa mulai mengenali seperti apa irama jantung yang kita miliki, apakah kita memiliki detak jantung dengan irama yang beraturan atau tidak, ungkap Faris.

“Kegiatan ini adalah rangkaian dari kampanye AF selama sebulan penuh yang dilakukan oleh InaHRS, mulai dari sosialisasi melalui media2, menghimbau cabang2 PERKI untuk mengadakan acara serupa di daerah2nya, mengadakan acara Scientific Meeting pertemuan ilmiah untuk para professional, dokter2 umum, dokter2 spesialis jantung dan juga Run for Heart Beat ini yang diikuti oleh peserta dari KJS-KJS, masyarakat umum, anggota PERKI, YJI, jumlahnya kurang lebih 1200 orang. Dan ini merupakan acara puncak dari semua kegiatan kampanye”, tambah Faris.

Ketika ditanya, instansi mana saja yang terlibat dalam kegiatan ini, “InaHRS, PP PERKI, YJI, APHRS, Bank Mandiri, Kementrian Kesehatan, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta”, ucapnya.

Mengenai kategori, hadiah dan route Run for Heart Beat ini? Faris bertutur: “Ada 3 kategori yang diperlombakan dalam lari kali ini, lari 5 Km Pria dan Wanita, Lari 5 Km Senior (diatas 55 tahun) dan Lari 2,5 Km. Route yang dilewati pelari 2,5 Km adalah dari Wisma Mandiri 2 bergerak menuju Bundaran HI, lalu berputar disana dan balik ke Wisma Mandiri, dan yang 5 Km dari Wisma Mandiri ke Bundaran HI, lalu berputar balik menuju ke Patung Kuda Arjuna Wiwaha di depan Gedung Indosat kawasan Monas lalu Museum Gajah, dan berputar lagi balik menuju Wisma Mandiri. Hadiah yang disediakan panitia, untuk pelari 5Km adalah uang sebesar Rp.5juta untuk juara satu, Rp.3jt untuk juara dua dan Rp.2jt untuk juara tiga. Sedangkan untuk pelari 2,5Km disediakan banyak hadiah berupa doorprize.

Faris berpesan kepada masyarakat akan pentingnya mewaspadai denyut jantung yang tidak teratur. “AF beresiko dengan orang2 yang punya hipertensi, penyakit jantung koroner, diatas 60 tahun, obesitas, alkoholik, gangguan hormon tiroid”. “Cara mendeteksinya yang paling mudah dan murah adalah dengan meraba nadi sendiri, dilihat apakah iramanya teratur, dan berapa denyut dalam satu menit, yang normal adalah 60-100 denyut/menit 10 detik kalikan 6, 15 detik kalikan 4”, ungkap Faris menutup perbincangan. Dan beliau bergegas naik ke atas panggung, karena MC sudah mengundangnya untuk memberikan sambutan.

Dalam sambutannya Dr. Faris Basalamah sebagai Ketua Panitia Run for Heart Beat 2018 mengatakan, kampanye AF yang didengung2kan oleh Asia Pacific Heart Rhythm Society pada setiap bulan September tiap tahunnya ini telah disambut baik dan didukung penuh oleh PERKI dalam hal ini Pokja InaHRS, dan telah digelar dalam 3 tahun ini, yang pertama dan kedua dengan kegiatan Fun Bike, dan ketiga ini dengan Run for Heart Beat.

Dr. Dicky A. Hanafi, selaku Ketua InaHRS, mengatakan dalam sambutannya, bahwa kegiatan kampanye ini akan diadakan rutin setiap tahun dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan irama jantung khususnya Atrial Fibrilasi. Hal senada ditambahkan oleh DR.Dr. Ismoyo Sunu, selaku Ketua PERKI dalam sambutanya mengatakan, PERKI dengan Pokjanya akan selalu mendukung kegiatan ini, karena ini adalah wujud bahwa kita ingin melakukan pencegahan penyakit jantung yang terutama untuk AF agar dapat dimonitor dengan Menari yang dilakukan secara rutin agar kita terhindar dari stroke, kematian mendadak atau gagal jantung.”

Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Ibu Esti Nurjadin, dalam sambutannya mengatakan YJI sangat mendukung acara ini karena sejalan dengan program kerja YJI dan awareness tentang AF juga sejalan dengan program edukasi YJI. Beliau mengajak peserta dalam rangka memperingati hari Jantung Sedunia yang jatuh pada 29 September pada hari Minggu, untuk berjanji lebih rutin berolahraga, tidak merokok, memilih makanan yang lebih sehat untuk jantung kita.

Prof. Young-Hoon Kim, selaku Past Presiden APHRS dalam sambutannya dengan bahasa Inggris sangat mendukung dan mensupport jargon Menari yang didengung2kan PERKI.


Dr. Faris Basalamah (Ketua panitia Run for Heart Beat 2018), Dr. Dicky Armein Hanafi (Ketua InaHRS), DR. Dr. Ismoyo Sunu (Ketua PERKI Pusat), ibu Esti Nurjadin (Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia), dan Prof. Young-Hoon Kim (Presiden Asia Pacific Heart Rhythm Society).

Acara dilanjutkan dengan pelepasan balon ke udara oleh para tamu kehormatan.

Detik-detik saat pelepasan balon acara Run for Heart Beat.

Sebelum acara sambutan2 diatas, Run for Heart Beat 2018, diawali dengan acara perlombaan lari 5Km yang dilepas oleh Dr. Slamet staf ahli Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Menkes mewakili Menteri Kesehatan RI yang berhalangan hadir. Lalu perlombaan lari 2,5Km yang dilepas oleh Prof. Young-Hoon Kim.

Gerbang Start dan Finish di pintu masuk Wisma Mandiri 2, Jl. MH. Thamrin Jakarta Pusat, wilayah Car Free Day pada setiap hari Minggu.


Prof. Young-Hoon Kim saat melepas para pelari 2,5Km.

Peserta lari K5 (5 Kilometer) melakukan start awal; Peserta lari K2.5 (2,5 Kilometer) berselfie dulu sambil menunggu diangkatnya bendera tanda start lomba.


Beberapa Klub Jantung Sehat bergabung melakukan Senam Jantung Sehat dipandu oleh Ibu Yati Suryatika di pelataran Wisma Mandiri 2 tepat di depan panggung VIP, menunggu kedatangan para pelari kembali dari lomba dan menuju garis finish.


Tampak Presiden PERKI (DR. Dr. Ismoyo Sunu, di barisan depan bercelana abu-abu) pun turut bersenam jantung sehat, dengan semangat 45.

Peserta seusai berlomba lari, sebagian mengantri dengan tertib di booth RS. Mitra Keluarga Kelapa Gading untuk melakukan pemeriksaan Tensi
dan Deteksi Aritmia dengan EKG gratis.

Medali biru yang siap dibagikan menyambut para pelari 2,5Km;
Sebagian para pelari 5Km, dengan berkalungkan Medali merahnya berfose bersama pencetus jargon Menari, Prof. Yoga Yuniadi.


Sepasang MC belia yang mengawal acara, Surianto Koci dan Delvia Wijaya; Astari Indah Vernideani (Putri Pariwisata Indonesia 2017) dan Astira Intan Vernadeina (Miss Sport Tourism Indonesia 2017) yang ‘menghiasi’ pelepasan balon ke udara tanda Run for Heart Beat 2018 diresmikan.


Ini dia para pemenang lomba lari kategori Pria 5Km Run for Heart Beat 2018: Octovianus Erwen Beke (juara satu), Wilder Karolis (juara dua) dan Mursalim Salim (juara tiga), didampingi Dr. Faris dan Dr. Ismoyo.


Dan ini adalah para pemenang kategori Wanita 5Km Run for Heart Beat 2018, yang ternyata ketiganya adalah satu keluarga, ibu dan kedua putrinya: Riquel Pireira S (juara pertama), Eduard Nabunome / Theresia (juara dua) dan Eduard Nabunome / Efrogina (juara tiga), didampingi sang ayah.


Sedangkan ini adalah para pemenang lari kategori Senior 5Km Run for Heart Beat 2018: Oteng Permana (juara pertama), Didit Widiyana (juara dua) dan Eddy Hartono (juara tiga), didamping Dr. Dicky.


Selamat kepada para pemenang lari 3 kategori didampingi Dr. Dicky, Dr. Ismoyo dan Dr. Faris.

Disela-sela pembagian hadiah doorprize untuk para pelari 2,5Km, diisi dengan acara Talkshow Kesehatan.

Prof. Yoga Yuniadi sebagai narasumber didampingi Dr. Vito Damay sebagai Moderator, membawakan materi “Menari kenali Fibrilasi Atrium”

“Sebelum kita melakukan olahraga apapun, kita harus memastikan dahulu kondisi kesehatan kita cukup baik, karena olahraga juga bisa menjadi risiko untuk serangan jantung”, ucap Prof. Yoga.

“Kita sering mendengar orang sedang olahraga bersepeda, jatuh, meninggal mendadak,” tambahnya.

“FA patut diwaspadai karena dapat menyerang semua orang, baik laki-laki, perempuan, tua, maupun muda, orang yang merasa dirinya sehat maupun memang pasien penyakit jantung. FA menyumbang 40% dari penyebab Stroke”, Prof mengabarkan. Karena itu Prof memberikan solusi sederhana bagi para pecinta olahraga, “Yang paling efektif dan paling mudah untuk mendeteksi dini FA ini adalah dengan Menari (Meraba Nadi Sendiri)”. “Jika dengan Menari ini terdeteksi irama jantung yang irregularitas ketukannya lebih dari 50 atau kurang dari 30 maka lakukan pemeriksaan rekaman EKG untuk deteksi lanjutan,” tambahnya.

Ada satu tips dari sang Profesor: “Lakukan pemeriksaan EKG sesegera mungkin pada saat anda merasakan irregularitas denyut jantung, jangan ditunggu sampai normal lagi, nanti tidak terekam”, katanya menutup materi.


Saat Prof dibantu moderator dan MC memperagakan cara Menari yang benar.

Talkshow kedua tentang “Sudden Cardiac Death (Kematian Jantung Mendadak), dibawakan oleh Dr. Daniel Tanubudi sebagai narasumber dibantu oleh Dr. Dejandra Rasnaya sebagai moderator.

“Ada beberapa penyebab AF: serangan jantung, penyempitan, koroner, kebiasaan merokok, tidak pernah olahraga, ada riwayat penyakit keluarga”, ungkap Dr. Daniel.

Pingsan yang tiba-tiba, jangan dianggap remeh, karena jika orang itu ada kelainan jantung, itu adalah tanda2 awal gangguan irama jantung yang berbahaya, Dr. Daniel mengingatkan.

“Dan untuk para olahragawan sebelum melakukan olahraga, sebaiknya diperiksa dahulu keadaan jantungnya dengan EKG atau treadmill, apalagi jika usia sudah lebih dari 35 tahun”, tambahnya.

Dr. Daniel menutup materi yang dibawakannya dengan mengingatkan, “Gaya hidup agar terhindar dari penyakit jantung adalah: hindari merokok, istirahat yang cukup dan olahraga yang teratur”.

Talkshow ketiga tentang Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) & Basic Life Support (BLS) untuk masyarakat dibawakan oleh: Dr. Reynold Agustinus dan Dr. Agil sebagai narasumber dan Dr. Dejandra Rasnaya sebagai moderator.

Dalam kesimpulan materi yang dibawakannya Dr. Reynold dan Dr. Agil mengatakan, “Sebagai orang awam, jika ada orang yang pingsan atau collaps, respon pertama adalah amankan area, untuk keamanan baik penolong ataupun yang ditolong. Kedua pastikan dia itu pingsan dengan cara check respon, check airway dan pergerakan dinding dada. Kemudian panggil bantuan. Selanjutnya check nadi. Jika tidak ada nadi lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) dengan kompresi/Bantuan Hidup Dasar sampai bantuan datang dengan membawa AED (Automated External Defibrillator). Ikuti instruksi dari AED itu sambil menunggu ambulan datang”.

Untuk menambah deg-degan-nya para peserta yang sedang menunggu undian doorprize, panitia menyuguhkan hiburan band, yang dibawakan oleh Arrhythmia Band dan Haris Band.



Peserta didepan panggung show.

Tumpukan doorprize yang siap dibagikan panitia; doorprize utama 2 buah sepeda yang telah diraih oleh dua orang pelari.


Panitia dan para tamu VIP pada Run for Heart Beat 2018.


Sebagian panitia Run for Heart Beat 2018.

(liputan ARiS/IHN)