*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

PERKI Lakukan Kajian dan Edukasi Publik di Sulsel dan Bangbel
Didukung Pfizer


Sebanyak 2.500 orang di 35 Puskesmas di Provinsi Sulawesi Selatan dan 15 Puskesmas di Provinsi Bangka Belitung akan menjadi sasaran program kerjasama World Heart Federation (WHF) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) tahun ini dalam rangka membantu meningkatkan kesehatan jantung masyarakat. Program ini didukung oleh Pfizer dan pada pelaksanaannya akan dikoordinasikan oleh PERKI yang akan bekerjsama dengan Yayasan Jantung Indonesia, perguruan tinggi dan klub jantng sehat setempat.

Program kerjasama penellitian yang akan berlangsung selama 18 bulan ini dikemas dalam payung Independent Grant for Learning and Change (GLC) Pfizer, untuk merumuskan upaya-upaya yang lebih baik agar dapat meningkatkan layanan kesehatan, terutama bagia psien penyakit jantung dan yang berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

“Kerjasama ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan memitigasi berbagai profil faktor-faktor risiko penyakit jantung di wilayah Indonesia dengan populasi yang memiliki risko penyakit jantung tertinggi,” ujar DR. Dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K), Ketua Umum PERKI pada siaran persnya di Heart House Jakarta (25/4).

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Indonesia dari tahun 2007-2013, terdapat peningkatan signifikan atas kematian akibat penyakit jantung dan faktor-faktor risiko penyakit jantung di Indonesia. Dari hasil riset ini pula diketahui bahwa provinsi Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung mewakili provinsi dengan jumlah risiko penyakit jantung yang tinggi dan ditandai oleh tingginya jumlah populasi perokok, jumlah pasien dengan tingkat kolesterol tinggi dan banyaknya kasus tekanan darah tinggi dan diabetes.”

“Kerjasama PERKI dan Pfizer ini bertujuan untuk dapat mempromosikan perilaku hidup sehat pada aspek-aspek yang dapat mempengaruhi risiko terhadap penyakit jantung, sesuai dengan panduan dan ketentuan dari Yayasan Jantung Indonesia, maupun PERKI,” lanjut Ismoyo.

Terkait dengan upaya tersebut, maka sebagai bagian dari kerjsama ini akan dilakukan peningkatan kemampuan profesional para tenaga kesehatan umum di 50 Puskesmas pada dua provinsi penelitian untuk dapat mengidentifikasi dan mengelola faktor-faktor risiko penyakit jantung sesuai dengan panduan PERKI.

Selain itu program ini akan didukung dengan program edukasi publik untuk meningkatkan gaya hidup sehat masyarakat termasuk dengan mendorong masyarakat berhenti merokok, akses aplikasi mobile untuk memantau gaya hidup sehat masyarakat setempat dan program apresiasi bagi Puskesmas yang berhasil melakukan pembinaan masyarakat yang berhasil mencapai tujuan penelitian PERKI nantinya.

“Pfizer bangga dapat bermitra dengan berbagai komunitas kesehatan global untuk meningkatkan kesehatan pasien di berbagai hal yang menjadi perhatian bersama, melalui dukungan kegiatan penelitian, pembelajaran terukur dan strategi intervensi untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat,” ujar Anil Argilla, Presiden Direktur Pfizer Indonesia.

“Penyakit jantung kian mengkhawatirkan akibat dampak yang ditimbulkannya, baik dari sisi ekonomi karena menurunnya produktivitas pada penderita di usia produktif, maupun risiko kematian yang tinggi,” tambah Anil.

Kendati mendapat dukugan dari perusahaan farmasi global, penelitian ini bersifat independen, dalam arti kendati proyek ini didanai oleh Pfizer, namun pelaksanaan serta hasil penelitian menjadi tanggungjawab penuh PERKI sebagai lembaga yang melakukan penelitian independen.

Penyakit jantung sendiri menjadi beban kesehatan signifikan di Indonesia dan pada tahun 2012 mengakibatkan hilangnya produktivitas setara dengan 18 ribu tahun akibat kehilangan kemampuan (Disability-Adjusted Live Years, DALYS), dimana sebanyak 17.500 diantaranya merupakan tahun-tahun yang hilang akibat kematian prematur, dan sisanya karena disabilitas akibat penyakit jantung. Jantung koroner merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di tahun 2012 yang merupakan 9% dari jumlah total kematian atau setara dengan 82,3 kasus per 100.000 penduduk.

Target utama dari penelitian PERKI adalah para pasien dengan penyakit jantung dan mereka yang memiliki faktor risiko terkena penyakit jantung di dua provinsi tersebut. Pemangku kepentingan lain yang diteliti adalah para petugas kesehatan di lembaga kesehatan tingkat pertama, yakni Puskesmas di lokasi tertentu pada dua provinsi tersebut, Fakultas Kedokteran di universitas setempat, pemimpin masyarakat dan organisasi kesehatan jantung.

Hasil penelitian ini akan disebarluaskan melalui seminar/symposium tingkat nasional maupun internasional, bersama dengan publikasi melalui jurnal nasional maupun internasional dan akan dilaporkan ke Kementrian Kesehatan untuk digunakan dalam pembuatan kebijakan dan agar dapat direplikasikan di lokasi-lokasi lainnya di Indonesia.

Menurut Dr. Siska S. Danny, agar terhindar dari kemungkinan terkena serangan jantung, Anda disarankan untuk melakukan olahraga secara rutin setidaknya 30 menit dalam sehari. Jangan lupa untuk beristirahat cukup, dan belajarlah untuk mengelola stres dengan baik. Terakhir, lakukan cek kesehatan secara berkala setiap tahunnya.

Penelitian yang dilakukan oleh PERKI dan didukung Pfizer ini diharapkan dapat menggugah masyarakat Indonesia agar lebih peduli terhadap kesehatan jantung. *

DR.Dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K), Anil Argilla, DR.Dr. Anwar Santoso, SpJP(K), Dr. Siska S. Danny, SpJP dan Prof. Budhi Setianto, SpJP(K).

(ARiS/IHN)