*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

Syukuran HUT PERKI ke-60

Sabtu, 18 November 2017 bertempat di Ayana Mid Plaza Hotel, Jakarta, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) merayakan HUT-nya yang ke 60.

Acara dihadiri oleh Ketua IDI (diwakili), Kepala Badan PPSDM Kemenkes(diwakili), Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes (diwakili), Ketua Perhimpunan Organisasi-organisasi Profesi, Ketua AIPTBI, Ketua YJI, Direktur RSJHK (diwakili), Direktur Rumah Sakit Rujukan Nasional, Provinsi dan Regional, Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, para Presiden PP PERKI Purna Bakti, para Ketua PERKI Cabang dan Komisariat, para Senior PERKI, Ketua Team Pengampu Jejaring Kardiovaskular RS Rujukan, Ibu-ibu Paguyuban Ibu-ibu Kardiologi Indonesia, dan para peserta undangan yang datang dari berbagai wilayah Indonesia.


Jejeran lukisan wajah-wajah para Presiden PERKI Purna Bakti nampak menyambut para tamu undangan menuju pintu ruangan megah dimana akan dilaksanakannya acara syukuran HUT PERKI ke-60.


Ini tempat berfoto ria para tamu undangan dengan background gambaran Perjalanan Ringkas Perki dari Dulu, Sekarang dan Masa Depan, yang terletak diluar ruangan acara.


Ini para pengiring musik dari Pacemaker Choir dibawah pimpinan dr. Radityo Prakoso yang juga sebagai konduktor.

Gelar acara peringatan HUT PERKI ke-60 dimulai sekitar pukul 18.00 WIB, dan dibuka dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Hymne PERKI” oleh paduan suara dari Pacemaker Choir. Disambung dengan penampilan ibu-ibu cantik dari Paguyuban Ibu-ibu Kardiologi Indonesia yang melantunkan beberapa tembang di atas panggung sambil menemani para tamu undangan yang mulai berdatangan dan sebagian sudah mulai menyantap makanan yang disediakan panitia. Penampilan ibu-ibu cantik ini ditutup dengan penyerahan karangan bunga dari Ketua PP PERKI kepada ketua Paguyuban.











Drama monolog Labdagati “Sebuah Awal Menuju Kejayaan” ditampilkan oleh Anindya Naila Sabahat dkk. Dengan iringan musik.



Drama dibuka oleh soloist menyanyikan lagu “Manuk Dadali” yang melukiskan keperkasaan burung garuda sebagai lambang dari kejayaan Indonesia. Babak pertama dan kedua menceritakan dr. Gan Tjong Bing setelah menyelesaikan studi penyakit dalam di Belanda dan menyadari bahwa lapangan ilmu kardiologi sangat luas sehingga terpanggil mengembangkan bidang ini di Indonesia. Lagu “Tanah Air” mengakhiri babak pertama, merefleksikan para pahlawan yang pergi menimba ilmu di negara lain hamun tidak lupa berbakti kepada tanah air tercinta. Lagu “Hamba Menyanyi” mengakhiri babak kedua, merefleksikan kerinduan para pelopor PERKI untuk berbakti bagi bangsa melalui keahlian terbaik mereka.

Babak ketiga dan keempat menceritakan suasana rapat tempat lahirnya Perhimpunan Kardiologi Indonesia (Per.KI), yaitu cikal bakal organisasi PERKI. Lagu “Bagimu Negeri” mengalun merefleksikan semangat para pelopor PERKI untuk mengabdi kepada negara. Babak kelima dimulai dengan lagu “Indonesia Jaya” oleh soloist dilanjutkan dengan pemutaran video perkembangan kardiologi di Indonesia di era pra-LAKARNAS. Babak keenam menceritakan terbentuknya LAKARNAS dan peran dr. Sukaman, dr. Loethfi Oesman, dr. Tagor GM, dr. ISF Ranti, Prof. dr. Asikin Hanafiah sebagai pelopor bidang kardiovaskular di Indonesia. Babak ini kemudian diakhiri dengan lagu “Melati Suci” sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada para pelopor PERKI atas keringat dan air mata yang telah ditumpahkan untuk memajukan bidang kardiovaskular di Indonesia.

Babak ketujuh menceritakan semangat seorang peserta didik pendidikan kardiologi pertama dari dokter umum. Babak kedelapan menandai perbedaan pendapat dalam tubuh PERKI sehingga menginiasi para pelopor PERKI untuk berjuang mandiri membangun ilmu kardiologi dan kedokteran vaskular. Babak ini diiringi oleh lagu “Gugur Bunga” dan diakhiri dengan persembahan lagu “Ibu Pertiwi”. Drama monolog ini ditutup dengan pemutaran video perkembangan PERKI di Nusantara selama 60 tahun dan kemajuan teknologi di bidang kardiovaskular masa kini, dilanjutkan video berisi nasihat dan harapan-harapan para tokoh pelopor PERKI bagi para penerus PERKI generasi muda.

Pada sambutannya, ketua Panitia Pelaksana Syukuran HUT PERKI ke-60, dr. Radityo Prakoso, SpJP(K), mengucapkan selamat datang dan penghargaan kepada para tamu undangan yang telah hadir meskipun dengan harus menempuh perjalanan jauh dan harus meluangkan waktunya yang berharga untuk dapat hadir.

Sedangkan Ketua PP PERKI, DR. Dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K) dalam sambutan SEKAPUR SIRIH-nya mengatakan, “Pencapaian PERKI di usia 60 tahun tidak bisa dilepaskan dari hasil perjuangan para pendiri dan pengurus PERKI dari pusat hingga cabang di periode-periode sebelumnya. Berkat kerjasama yang sinergis antara PERKI dan Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (Kolegium IPJPD) maka upaya pengabdian PERKI yang sangat berat untuk negeri ini dapat mengakselerasi capaian-capaian sbb: PERKI aktif dalam Komite Penanggulangan Penyakit Kardioserebrovaskular Nasional bersama Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), Perhimpunan Spesialis Penyakit Saraf (PERDOSI), Perhimpunan Spesialis Dokter Rehabilitasi Medik (PERDOSRI), Perhimpunan Spesialis Bedah Torak Kardiovaskular (HBTKVI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Anak (IDAI) dengan harapan ke depan komite ini mampu mewujudkan kesamaan pandangan dan pendapat terutama dalam memberikan advokasi kebijakan dan regulasi pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan pada era JKN yang pada akhirnya dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas secara bermakna .”

Selanjutnya, dr. Ismoyo menuturkan, “PERKI sebagai organisasi profesi yang berstatus badan hukum sejak Januari 2017 dapat menjalin hubungan legal formal dengan beberapa institusi antara lain dengan badan PPSDM Kementerian Kesehatan untuk mengawal terlaksananya program fellowship in training dengan terwujudnya perjanjian kerjasama bantuan pembiayaan yang dilaksanakan di 9 Rumah Sakit Rujukan Pendidikan Kardiovaskular di Indonesia dengan target 25 fellow kardiologi intervensi per tahun dan selain itu PERKI juga mengirim 25 fellow per tahun untuk mengikuti fellowship in training di China dan India hal ini tentunya tidak terlepas dari peran yang luar dari pokja intervensi PERKI (PIKI). Harapan ke depan pokja fellowship ini mampu mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM spesialis kardiovaskular di rumah sakit rujukan nasional, provinsi dan regional. Sejalan dengan percepatan itu PERKI berinovasi untuk membuat model optimal pelayanan kardiovaskular sebagai pedoman advokasi kebijakan pemerintah untuk rumah sakit rujukan sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang mengedepankan keselamatan pasien.”

“Pengabdian PERKI yang lain diwujudkan dengan nota kesepahaman PERKI dan Asosiasi Institusi Pendidikan Teknologi Biomedis Indonesia (AIPTBI). Dimana AIPTBI telah membuktikan pembuatan alat-alat kardiovaskular seperti sten pembuluh darah koroner, deteksi dini pembuluh darah dan yang sedang dalam proses adalah pembuatan alat kateterisasi perifer tanpa menggunakan sinar X. Harapan ke depan lebih banyak dihasilkan peralatan kardiovaskular yang lebih terjangkau.”

“PERKI juga telah mewujudkan nota kesepahaman dengan Pusat Kesehatan Haji Kemenkes tentang penyelenggaraan kesehatan jamaah haji mengingat tingginya angka kematian jemaah haji yang disebabkan penyakit kardiovaskular.”

“PERKI sungguh mengapresiasi pokja PIKI yang sejak Januari 2017 telah melaksanakan PCI Registry dari partisipasi 11 rumah sakit di Indonesia. Di samping itu usaha dari Pokja Acute Cardivascular Care yang berhasil melaksanakan Program Istemi yang berjalan dengan baik di Indonesia. Dua kegiatan ini diharapkan memberikan data tata laksana penyakit jantung koroner yang sesuai dengan demografi Indonesia sehingga mendukung pelayanan kesehatan yang akan dibayar oleh BPJS.”

“Pengabdian lain, PERKI mendapatkan kepercayaan besar untuk mengelola program riset pencegahan penyakit kardiovaskular dari World Heart Federation di 2 provinsi yang mempunyai beban faktor risiko tinggi di Indonesia yaitu provinsi Bangka Belitung dan Sulawesi Selatan. Semoga hasil riset ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang kuat dalam program promosi dan preventif Kemenkes.”

“Pengabdian lain, kerjasama yang terus menerus dengan Yayasan Jantung Indonesia melalui kegiatan bersama seperti World Hypertension Day, World Heart Day, World No Tobaco Day, Atrial Fibrilation Champaign yang mengedepankan gerakan masyarakat hidup sehat.”

“PERKI kerjasama dengan American College Cardiology di Jakarta yang menyelenggarakan Web Based Seminar (Webinar) untuk mempermudah penyebaran ilmu pengetahuan kardiovaskular menjadi efisien dan efektif ke seluruh cabang PERKI di Indonesia.”

“Pengabdian di tingkat internasional, PERKI terus memelihara hubungan baik dengan organisasi profesi kardiovaskular internasional dengan terpilihnya Dr. dr. Anwar Santoso, SpJP(K), sebagai President elect ASEAN Federation of Cardiology tahun 2017 dan terpilihnya dr. Fauzi Yahya, SpJP(K), sebagai Vice President APSC (Asian Pasific Society Cardiology) 2017 dengan harapan akan terjalinnya kerjasama MEA yang saling menguntungkan dan terbentuknya komite akreditasi ASEAN dan Asia Pasific yang lebih menjamin keadilan.”

“Dalam syukuran Ulang Tahun PERKI ke-60 ini, berangkat dari kesadaran dan rasa penghormatan yang paling tinggi akan pengabdian para pengurus PERKI purna bakti yang telah berjuang tanpa pamrih demi kemajuan organisasi maka sudah sepantasnya malam ini menerima penghargaan penghormatan Aryasatya tingkat kemuliaan dari PERKI,” pungkas dr. Ismoyo Sunu.

Acara dilanjutkan dengan pemberian Bintang Aryasatya PERKI kepada:

  1. dr. Gan Tjong Bing (Ketua PP PERKI 1957-1966) (Alm)
  2. dr. Sukaman, SpJP (Ketua PP PERKI 1966-1978) (Alm)
  3. Prof. dr. Asikin Hanafiah, SpJP(K), FIHA, FAsCC (Ketua PP PERKI 1978-1981 dan 1987-1991)
  4. dr. Tagor GM Siregar, SpJP (Ketua PP PERKI 1981-1984) (Alm)
  5. Prof. dr. Lily I. Rilantono, SpJP(K), FIHA, FAsCC (Ketua PP PERKI 1984-1987)
  6. Prof. dr. Sjukri Karim, SpJP, FIHA (Ketua PP PERKI 1991-1994) (Alm)
  7. Prof. Dr. dr. Dede Kusmana, SpJP(K), FIHA, FACC, FAsCC (Ketua PP PERKI 1994-1997)
  8. dr. Santoso Karo Karo, MPH, SpJP(K), FIHA, FAsCC (Ketua PP PERKI 1998-2002)
  9. dr. Manoefris Kasim, SpJP(K), FIHA, FACC, FAsCC (Ketua PP PERKI 2002-2004)
  10. Prof. Dr. dr. Idris Idham, SpJP(K), FIHA, FACC, FESC, FAsCC (Ketua PP PERKI 2004-2006)
  11. Dr. dr. Muhammad Munawar, SpJP(K), FIHA, FACC, FESC, FSCAI, FAsCC (Ketua PP PERKI 2006-2008)
  12. dr. A. Sunarya Soerianata, SpJP(K), FIHA, FACC, FESC, FSCAI, FAsCC (Ketua PP PERKI 2008-2010)
  13. dr. Anna Ulfah Rahajoe, SpJP(K), FIHA, FACC, FESC, FAsCC (Ketua PP PERKI 2010-2012)
  14. Prof. Dr. dr. Rochmad Romdoni, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FACC (Ketua PP PERKI 2012-2014)
  15. Dr. dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FESC, FACC (Ketua PP PERKI 2014-2016)


Selain itu PERKI memberikan bintang penghargaan PERKI bagi para tokoh yang telah berjasa dalam pengembangan pusat pendidikan kardiologi dan kedokteran vaskular di Indonesia, yakni kepada Prof. Dr. dr. H. Biran Affandi, SpOG(K), Guru besar FK Universitas Indonesia, Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia 2003-2009.
Dan kepada Prof. dr. H. Fasli Jalal, SpGK, PhD, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Dept. Pendidikan dan Kebudayaan RI 2007-2011.

Acara Syukuran HUT PERKI ke-60 diakhiri dengan pembacaan do’a dipimpin oleh dr. Suhendi Wijaya, SpJP.

Tibalah acara hiburan dengan menampilkan grup band yang terkenal pada dasawarsa 1970-an yaitu Koes Plus. Meskipun personil Koes Plus lamanya hanya tinggal satu orang (Yok Koeswoyo) namun kharisma dan penampilannya masih mampu menyedot perhatian para tamu undangan sehingga larut dalam setiap lagu-lagu 'lawas' yang dibawakan.

Dr. Santoso Karo Karo dan Dr. Ismoyo Sunu pun tersedot untuk tampil ke pentas.


Dan….. tamu undanganpun terlarut kedalam iringan musik band itu.*


Ketua PP PERKI Purna Bakti