*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

GAGAL JANTUNG: TERMINAL AKHIR PENYAKIT JANTUNG


Mengapa terminal terakhir? Karena apapun jenis penyakit jantungnya, jika tak tertangani dengan baik, jantung akan kewalahan sehingga jatuhlah pada kondisi ini.

Penyakit gagal jantung ini dengan kata lain adalah komplikasi akhir dari penyakit-penyakit jantung lain seperti penyakit jantung bawaan, penyakit jantung koroner, penyakit katup jantung, dll.

Guru saya, dr. Nani Hersunarti, SpJP(K) adalah kardiolog yang sangat konsern terhadap penyakit gagal jantung. Dari beliau, saya belajar banyak hal.

Salah satu hal penting yang ingin saya sampaikan kepada rekan-rekan sejawat dokter umum adalah pentingnya terapi optimal dan edukasi.

Terapi optimal untuk gagal jantung harus mencakup 3 obat pilar, yakni: diuretik, penghambat ACE dan penyekat beta.

Acapkali karena keluputan, obat-obat ini tak terminum sama sekali atau kurang adekuat karena berbagai hal (obat distop oleh dokter umum, komplians pasien buruk, malas kontrol, petunjuk minum kurang tepat, dll).

Suatu kondisi gagal jantung yang paling berat adalah bila sudah sampai di derajat D (berdasarkan American Heart Association dan American College of Cardiology) yakni kondisi gagal jantung yang refrakter.

Tak ada opsi lain selain: CEGAH hal ini terjadi. Lewat apa? Salah satunya adalah hal di atas (terapi gagal jantung yang optimal).

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Andaikan penyakit jantung awal adalah bus, kita cegah agar jangan sampai berhenti di terminal ini. Tentu saja bukan dengan manuver "Om Telolet Om....". Hehehe.

(dr. Andy Kristyagita, 30 Desember 2016)