*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

TAKIKARDIA VENTRIKEL IDIOPATIK:
ARITMIA YANG UNIK

Sebagaimana telah diulas, terminal akhir penyakit jantung struktural atau fungsional adalah gagal jantung. Apakah komplikasinya sebatas ini? Tentu tidak. Komplikasi lain yang bisa mengancam pasien dengan penyakit jantung adalah aritmia kordis (gangguan irama listrik yang mengalir dalam otot jantung).

Aritmia ini macamnya bervariasi, mulai dari yang jinak, sampai yang ganas. Kali ini kita akan membahas sedikit mengenai aritmia yang unik yakni aritmia yang sebetulnya, menurut saya, adalah bukan komplikasi tetapi justru merupakan penyakit primer itu sendiri. Apa sebab? Karena aritmia ini muncul pada orang-orang yang struktur jantungnya normal (alias tanpa kelainan struktural) dan juga tanpa faktor pencetus (baik kelainan metabolik, seperti elektrolit, ataupun kelainan elektrokardiografik, seperti sindrom interval-QT-yang-memanjang). Aritmia unik ini adalah takikardia ventrikel (TV) idiopatik.

Takikardia secara harfiah berarti denyut jantung yang terlampau cepat (frekuensinya lebih dari 100 kali per menit). Sementara ventrikel artinya adalah bilik jantung. Sebagaimana kita telah diajarkan dalam mata pelajaran biologi, ruang jantung ada empat; dua adalah serambi dan dua lainnya adalah bilik. Adapun idiopatik, secara istilah, adalah sebutan yang disematkan untuk penyakit yang kausanya belum jelas atau belum pasti. Dalam hal takikardia ventrikel ini, sebutan ini disematkan karena tidak adanya kelainan struktural yang mendasari.

Menilik ke lingkup yang lebih luas, TV ini sebenarnya sebagian besar (90%) disebabkan karena kelainan struktur. Takikardia ventrikel idiopatik hanya sejumlah 10% proporsinya dari keseluruhan TV.

Dari keseluruhan TV idiopatik, 90% fokus ektopiknya (titik cetusan listriknya) berasal dari daerah ventrikel kanan dan 10% dari ventrikel kiri, yakni dari jalur keluar ventrikel kiri atau jalur arus listrik bernama fasikulus. Fasikulus ini adalah cabang dari serabut jalur listrik yang berjalan dalam otot jantung bilik kiri. Fasikulus ada dua, fasikulus sebelah depan (anterior) dan sebelah belakang (posterior).

Adanya TV idiopatik ini bisa diketahui dari wawancara, pemeriksaan fisis, dan rekam jantung. Penyakit ini biasanya diderita oleh orang muda berusia 15-40 tahun yang 60-80%-nya adalah laki-laki.

Ada gambaran-gambaran rekam jantung khusus pada TV idiopatik yang bisa dideteksi melalui rekam jantung oleh dokter jantung atau dokter umum yang telah terlatih karena gambaran di rekam jantungnya memerlukan pengamatan yang jeli agar bisa dibedakan dari aritmia lainnya yang mirip yakni takikardia supraventrikel (bersumber dari daerah di atas bilik jantung) yang disertai aberansi.

Aritmia unik ini jarang menimbulkan kematian jantung mendadak dan pasien yang mengalami ini biasanya masih bisa menoleransi gejalanya saat aritmianya kambuh. Kabar baiknya, menurut Prof. Josep Brugada pada tahun 2010, adalah prognosis pada pasien ini cukup baik.

Gejala klinisnya bisa berupa berdebar-debar dan tanda klinisnya bisa berupa pingsan. Penanganan aritmia ini berkisar dari cukup diberi tindakan khusus yang merangsang saraf parasimpatis (manuver vagal), obat-obatan, sampai yang memerlukan ablasi kateter (pemusnahan titik cetusan aritmia menggunakan gelombang frekuensi radio lewat suatu tindakan kateterisasi ke dalam ruang jantung). Ablasi kateter ini sering bersifat kuratif untuk aritmia ini.

Referensi:
Situs Life in the Fast Lane; Artikel berjudul How to recognize and manage idiopathic VT karya Prof. Josep Brugada dan Diego Perez Diez pada 09 Maret 2010.

(dr. Andy Kristyagita, kala senja dalam kereta)