*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

SINDROM WELLENS
(Sebuah tulisan brainstorming ringkas saya teruntuk sejawat dokter umum,
khususnya yang berkecimpung di Unit Gawat Darurat atau ICU / ICCU)


Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian nomor satu, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Kemajuan teknologi di berbagai bidang membuat orang mengonsumsi banyak makanan dan minuman tak sehat. Sedentary life yakni gaya hidup yang meminjam istilah ilmu Fisika, bersifat inert (lembam) membuat probabilitas terkena penyakit ini makin meningkat.

Bila seseorang sudah memiliki penyakit jantung koroner, akan terbentuk plak yang lama-lama bisa mengakibatkan penyempitan yang berat (critical coronary artery stenosis). Bila penyempitan berat ini terjadi di bagian proksimal arteri koroner cabang kiri ranting depan (LAD [left anterior descending] artery) orang tersebut akan berisiko mengalami infark miokard dinding depan (anterior wall) dan bahkan bisa meluas ke dinding lateral (anterior-extensive wall) miokardium. Subset-subset infark miokard ini adalah yang terberat (yakni dalam hal angka mortalitas) dibanding subset-subset yang lain (inferior, posterior, lateral dan ventrikel kanan).

Adakalanya pasien stenosis berat pangkal arteri LAD ini berada pada kondisi penyakit jantung iskemia yang stabil yakni keluhan angina hanya muncul saat aktifitas berat. Saat datang di UGD, pasien bisa saja sudah bebas angina dan pemeriksaan enzim jantungnya pun juga normal atau sedikit saja peningkatan kadarnya dalam darah.

Pada saat seperti ini, kelainan EKG dapat membantu kita untuk mendeteksi adanya stenosis kritis pangkal LAD ini. Pendeteksian ini dapat membantu kita untuk segera merujuk pasien ke cath lab RS tersebut atau ke RS lain yang memiliki fasilitas ini untuk dilakukan angiografi koroner dengan atau tanpa pemasangan sten. Hal ini secara tak langsung bermanfaat untuk mencegah terjadinya infark miokard akibat ruptur plak atau spasme di waktu-waktu mendatang.

Kelainan-kelainan dan perubahan-perubahan EKG yang bisa muncul pada pasien-pasien ini serta adanya angina atau riwayat angina adalah poin-poin penting dari apa yang disebut Sindrom Wellens.

Sindrom ini dinamai sesuai penemunya, Hendrick Joan Joost Wellens, MD, seorang kardiolog Belanda. Beliau merupakan salah satu founding father salah satu sub-ilmu kardiologi, elektrofisiologi jantung klinis.

Sindrom ini meliputi 2 tipe:

  1. Tipe A, yakni adanya bi. Gelombang T bifasik di sandapan V2-V3 (yang bisa juga meluas ke V1-V6).
  2. Tipe B, yakni adanya gelombang T terinversi yang simetris dan dalam di sandapan-sandapan tersebut.

Kelainan EKG tersebut disertai dengan progresi gelombang R yang normal dari V1 - V6 (di mana amplitudo gelombang R meningkat secara gradual), tidak adanya gelombang q patologis, dan bisa disertai dengan elevasi segmen ST yang minimal.

Keistimewaan pada gambaran EKG pasien-pasien sindrom ini adalah munculnya inversi atau bifasisitas gelombang T justru terjadi pada fase bebas angina. Saat muncul angina akibat ruptur plak atau spasme akan terjadi gelombang T hiperakut dan elevasi segmen ST yang makin meningkat. Fase ini menandakan terjadinya awal evolusi infark miokard anterior.

Bila thrombus yang terjadi mengalami lisis spontan atau spasme koroner menghilang, terjadilah reperfusi miokard dan gambaran EKG akan kembali menunjukkan gambaran gangguan repolarisasi (inversi atau bifasisitas gelombang T). Dapat disimpulkan bahwa gambaran gelombang EKG pada sindrom ini bersifat dinamis.

Gambaran EKG-nya cukup unik bukan? Sayangnya keunikannya menunjukkan risiko yang tinggi untuk kondisi kardiovaskular yang berbahaya.

Untuk melihat gambaran EKG sindrom ini yang lebih jelas, silakan menyelancari situs-situs informasi EKG dalam dan luar negeri. Situs luar negeri misalnya LITFL, dr. Smith's ECG, atau Ken Grauer's ECG Interpretation blog.

Pendeteksian dini Sindrom Wellens insya Alloh akan membantu menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat infark miokard pada khususnya dan PJK pada umumnya.

(dr. Andy Kristyagita, 7 Januari 2017)
(Sumber: LITFL ECG Library dan Wikipedia)