*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

Rokok lagi....!!!


"Keluhannya apa bu?" tanya saya kepada pasien seorang wanita berusia 50 tahun.

"Sesak nafas dok, jalan sedikit sesak. Seringkali ada nyeri dada juga. Sudah ke dokter di-EKG dan difoto Ronsen. Katanya sakit jantung, jadi saya datang kesini," jawab sang ibu dengan suara lemah.

(pasien kemudian memberikan hasil pemeriksaan EKG dan foto ronsen. Dari EKG-nya tampak jelas bahwa otot jantungnya sudah rusak karena serangan jantung. Dari foto Ronsennya juga terlihat jantungnya bengkak cukup besar. Jadi kemungkinan besar keluhan yang dialami ibu ini terjadi karena gagal jantung yang timbul setelah terkena seragan jantung)

"Ibu dulu pernah ada nyeri dada? Mungkin disertai keringat dingin, mual atau muntah?" tanya saya kemudian.

"Pernah dok, tapi kejadiannya sudah lama," jawabnya.

"Ngga ke dokter bu?"

Ngga dok, berobat alternatif, katanya angin duduk, terus dikasih obat herbal. Tidak lama keluhannya hilang. (Nyeri dada pada kasus serangan jantung bisa berkisar 12-48 jam. Nyeri menandakan otot jantungnya sedang sekarat, tanpa tindakan cepat untuk mengembalikan aliran darah yang tersumbat, otot jantung yang tidak mendapat cukup darah akan rusak dan mati sehingga fungsi jantung pada akan terganggu dan timbul keluhan sesak).

"Ibu punya tekanan darah tinggi, kencing manis, atau kolesterol tinggi?"

"Tidak ada dok".

"Ibu merokok?"

(Tertawa kecil) "Ah ngga dok, masa perempuan merokok".

"Kalau suami bagaimana bu? Apa merokok?"

"Iya dok".

"Kalau suami merokok ibu sering kebagian asapnya?"

"Iya dok, pasti, saya ngga bisa cegah".

"Bu, ibu memiliki sakit jantung koroner, ibu tidak boleh merokok atau terpapar asap rokok pasif, mana suaminya bu? Biar saya jelaskan sekarang".

"Dok suami saya baru saja meninggal belum lama, katanya serangan jantung. Beliau supir, lagi bawa mobil mengeluh nyeri dada, mobil dipinggirkan, tidak lama dia pingsan, dibawa ke RS tidak tertolong, katanya serangan jantung".

"Innaillahi Wainnaillaihi Rojiuun, turut berduka bu,"

Setelah itu saya jelaskan sakitnya apa, pengobatannya bagaimana dan apa yang harus dihindari. Terkait asap rokok yang harus dihindari, sayangnya hal itu masih sulit dilakukan karena ternyata anak-anaknya sekarang perokok semua... Saya titipkan ke anak perempuan yang saat itu mendampingi pasien untuk bisa menyadarkan saudara-saudaranya untuk tidak merokok didekat sang Ibu. Semoga nasihat saya diikuti anak-anaknya ya...

Saudaraku...

Merokok adalah pilihan, siap merokok harus siap sakit.

Kalau anda sudah siap sakit dan ingin tetap merokok itu pilihan anda. Tapi tolong jangan bawa-bawa keluarga anda. Kami tenaga medis sering mendengar cerita pilu, istri seorang perokok terkena sakit akibat rokok seperti kanker paru atau sakit jantung, bayi seorang perokok terkena radang pernafasan, dsb. Sudah banyak penelitiannya mengenai bahaya merokok pasif ini.

Jadi tolong untuk para perokok, jangan bagikan asap rokok yang berbahaya ke anak istri atau teman-teman anda. Karena mereka berhak memilih untuk bisa hidup sehat...

(Dr. Erta Priadi Wirawijaya SpJP,
Bandung, 15 Juli 2016)