*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

Torakoskopi di RSUD AWS, Bedah Dada Minim Sayatan Pertama di Kalimantan
Operasi Rendah Risiko, Pemulihan Luka Lebih Cepat


Dokter tengah melakukan pembedahan dada pasien dengan teknik torakoskopi
di RSUD AWS Samarinda. (IST)


Bila Anda anti-terhadap luka sayatan, bisa jadi metode bedah dada torakoskopi menjadi solusi. Namun, ada penyakit yang memang direkomendasikan menggunakan prosedur tersebut.

PASCA tindakan pembedahan, pasien biasanya harus bersiap pada masa pemulihan. Tidak hanya pulih dari penyakit awal, tapi juga pulih dari proses pembedahan yang membuka jaringan kulit.

Seberapa lama waktu yang diperlukan, bergantung dengan lebar jahitan. Semakin besar, maka semakin lama pula pemulihan. Maka, untuk mengurangi waktu pemulihan, sayatan mesti dibuat seminimal mungkin. Saat ini ada torakoskopi untuk mereka yang harus mendapat pembedahan di dada.

Spesialis bedah toraks kardiovaskuler Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, dokter Ivan Joalsen Sihaloho mengatakan, pada dasarnya torakoskopi memiliki cara kerja yang sama dengan laparoskopi.

Bedanya, pada areal penerapannya. Torakoskopi adalah tindakan operasi rendah risiko yang dilakukan pada areal rongga dada. Sedangkan, laparoskopi di areal perut. Torakoskopi ini akan meminimalisasi risiko dibandingkan torakotomi.

Jadi, ujar dia, torakotomi adalah operasi dengan membuka dinding dada. Operasi memungkinkan akses ke paru-paru, tenggorokan, batang nadi, jantung, dan diafragma. Bergantung pada situs bedah, torakotomi bisa dilakukan di sebelah kanan atau kiri sisi dada.

Kadang-kadang, torakotomi kecil bisa dilakukan di bagian depan dada. Hal ini berbeda dengan torakoskopi yang sayatannya lebih kecil. “Sayatan pada torakoskopi hanya 2 sentimeter hingga 3,5 sentimeter. Sedangkan, biasanya sayatan pada bedah biasa itu 10 sentimeter sampai 15 sentimeter,” terang Ivan.

Sayatan yang lebih kecil membuat pemulihan luka lebih cepat. Rasa nyeri dan efek yang dirasa dari prosedur pembedahan pun, bisa diminimalisasi.

Ivan menyebut, saat ini torakoskopi sudah bisa dilakukan di RSUD AWS Samarinda. Di rumah sakit itu pula, pembedahan dengan sayatan kecil ini jadi pertama yang di Kalimantan.

Pembedahan torakoskopi dimulai dengan sayatan kecil di antara tulang rusuk. Kemudian dari sayatan tersebut akan dimasukkan tabung tipis berkamera yang akan memandu dokter untuk tindakan yang akan digunakan. Dokter akan mengambil tindakan berdasarkan gambar yang terekam di kamera dan terpampang di layar monitor.

“Kaltim sudah bisa torakoskopi. Alat sudah lengkap. Prosedur ini bisa dilakukan untuk semua kelainan di rongga dada. Misal operasi paru atau tumor di rongga dada,” imbuhnya.

Untuk prosedur operasi ini bisa memakan waktu 2-4 jam. Meski begitu, operasi ini tidak bisa sembarangan. Ivan menjelaskan, operasi ini lebih khusus. Pertama adalah dari anestesi khusus. Kemudian, perawat juga menggunakan mereka yang khusus mengenal alat torakoskopik.

“Dokter anestesinya khusus juga. Biasanya, jadi satu dengan anestesi jantung,” ucap alumnus Universitas Airlangga itu.

Ivan menjelaskan, kelainan di rongga dada yang bisa menggunakan torakoskopi. Seperti tumor paru adalah kelainan yang direkomendasi untuk ditangani dengan prosedur tersebut. Dengan prosedur torakoskopi tumor paru bisa minim luka. Sehingga, pemulihan bisa lebih banyak fokus pada jaringan paru. (rom/k15)

(Noviyatul Chalimah/kaltim.prokal.co,
16 Oktober 2016)