*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

NIKMAT ALLOH DALAM SEBUAH ELEKTROKARDIOGRAM


Suatu waktu seorang pasien wanita usia lanjut datang dengan keluhan pusing dan hampir pingsan datang ke UGD RS Harapan Kita dengan diantar oleh keluarganya.

Pemeriksaan rekam jantung ternyata menunjukkan kelainan irama jantung berupa Blok Atrioventrikular Total. Artinya terjadi putus hubungan arus listrik dari 'generator' utama alamiah di jantung kita. Arus listrik dari generator tersebut (yang letaknya di serambi kanan jantung) akhirnya tidak dapat mencapai daerah 'hilir' yakni bilik kanan dan kiri jantung. Hambatan ini sifatnya total.

Namun, Alloh memang Mahakuasa dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya. Dia menciptakan mekanisme alamiah di jantung kita bernama denyut penyelamatan. Secara elektrofisiologis jantung dikenal dengan nama 'escape rhythm'. Ini adalah suatu cetusan listrik yang berasal dari tempat lain di sebelah hilir tempat hambatan total dan muncul karena 'inisiatif' sel-sel di daerah tersebut. Ini berkonsekuensi akan tetap ada arus listrik yang menyebabkan otot jantung berkontraksi meski terjadi 'perceraian' aliran arus listrik.

Sebagai analogi, bayangkanlah sebuah sungai vital mengalir dari kota A ke kota B yang menghidupi masyarakat di kota-kota tersebut dan membentuk peradaban (semacam Eufrat-Tigris, Huang Ho, Yang Tze Kiang, dll). Sebutlah suatu hari ada sesuatu yang teramat besar yang membendungnya sehingga aliran sungai terhenti total. Syahdan, keajaiban muncul, suatu mata air muncul di hilir sungai tersebut dan lama kelamaan membentuk sungai baru, mengaliri daerah-daerah di kota B dan menyelamatkan peradaban di kota tersebut.

Demikian perumpamaan sederhana yang bisa terungkapkan.

Kembali ke ruang UGD RS Harapan Kita, pada pasien di atas, akhirnya dipasang alat pacu jantung sementara sebagai langkah kuratifnya. Apakah berlanjut dengan dipasang alat pacu jantung permanen? Gambaran rekam jantung selanjutnya-lah yang akan menentukan hal ini. Biasanya akan dievaluasi selama dua minggu. Bila irama jantung belum kunjung membaik, pasien akan dipasang pacu jantung permanen.

Dalam setiap kejadian, akan ada bukti-bukti kebesaran-Nya, sekaligus nikmat-Nya, yang kita temukan bila kita mau gali lebih dalam dan pikirkan. Tidak hanya fenomena medis, tetapi juga fisis, kemis, biologis, sosiologis, dsb.

(dr. Andy Kristyagita, 5 Januari 2017)