*** Diterbitkan oleh: Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia ***

MENGENAL PJB ASD


Penyakit jantung bawaan (PJB) banyak macamnya. Salah satunya adalah ASD yakni kependekan dari Atrial Septal Defect. Bila diserap ke bahasa Indonesia menjadi Defek Septum Atrium yang berarti kelainan yang ada di sekat serambi jantung. Penyakit ini adalah PJB yang non-biru (asianotik) yang berarti pasien tidak menunjukkan tanda perubahan warna kulit atau bibir menjadi biru.

Kelainan pada ASD berupa celah yang seharusnya sudah tidak ada. Penyakit ASD adalah PJB terbanyak kedua setelah VSD (Ventricular Septal Defect [Defek Septum Ventrikel]). ASD bisa muncul bersama dengan PJB lain dan bisa pula muncul tanpanya.

Penyakit ini biasanya tidak menimbulkan keluhan pada bayi atau anak-anak. Adanya ASD sering diketahui lewat pemeriksaan fisis di mana ditemui adanya bising jantung yang terdengar lewat stetoskop dokter. Bising jantung ini memang tanda yang sangat lazim ditemui pada PJB, apapun jenisnya. Namun, adanya bising tidak selalu menunjukkan adanya kelainan struktur jantung.

ASD memiliki tanda-tanda yang terbaca pula dari pemeriksaan rekam jantung dan ronsen dada. Manifestasi yang muncul di kedua pemeriksaan ini adalah kelainan yang adalah imbas dari ASD itu sendiri, yakni pembesaran serambi kanan dan bilik kanan jantung, hambatan aliran listrik jantung, pergeseran sumbu aliran listrik jantung, dan meningkatnya corakan pembuluh darah paru.

Kelainan ASD, pada khususnya, dan PJB, pada umumnya, dapat terlihat lebih jelas dari pemeriksaan ekokardiografi (ultrasonografi jantung).

Dampak jangka panjang ASD, sebagaimana PJB lain, adalah gagal jantung kongestif yakni kelemahan jantung atau penurunan fungsi jantung dalam menyuplai darah ke organ-organ sehingga pasien menjadi gampang capek, sering berdebar-debar, sesak napas, berat badan sulit naik, dan menyusu terputus-putus.

Penyakit ASD ini dapat menutup sendiri atau tidak. Pada ukuran ASD yang kecil, bisa saja menutup sendiri. Namun, pada ukuran yang besar rentan terjadi peningkatan tekanan darah pembuluh darah paru atau gagal jantung kongestif sehingga sering perlu obat-obatan atau tindakan penutupan ASD baik via operasi atau pemasangan alat via tindakan kateterisasi.

Bila Anda menemui gejala atau tanda di atas pada buah hati Anda, bawalah ke dokter umum, atau dokter spesialis anak, atau dokter spesialis jantung setempat untuk mendapatkan tindakan medis.

Kelainan PJB secara umum bisa terjadi karena berbagai faktor seperti infeksi yang terjadi pada bumil, penggunaan obat-obat tertentu selama kehamilan, konsumsi alkohol dan merokok. Nah, lagi-lagi merokok bisa jadi biang keroknya. Jadi, bagi kaum hawa yang punya kebiasaan ini, tolonglah hentikan segera karena dampak buruknya bagi kesehatan Anda dan janin Anda, di samping secara etika juga amat tak elok.

Akhirul kalam, semoga buah hati kita sekalian terhindar dari PJB. Amiin. Keluarga sehat untuk Indonesia kuat.

(dr. Andy Kristyagita, 14 Januari 2017)